Jalan Terbaik
Senin, 12 April 2010
Posted by apurie in renungan
Kuyakin kita akan bahagia
tanpa harus selalu bersama
Tak perlu di sesali
Tak usah di tangisi(Jalan Terbaik – Seventeen)
Masih ingat dengan bayi penderita Atresia Bilier, Bilqis Anindya Passa? Perjuangan orangtuanya untuk menyembuhkan penyakit langka itu telah berakhir seiring dengan meninggalnya Bilqis karena bakteri ganas yang menyerangnya. Sebelumnya, gerakan peduli sosial KOIN CINTA UNTUK BILQIS memberikan harapan cerah ketika berbagai kalangan ikut berpartisipasi dan berhasil mengumpulkan rupiah dari koin untuk biaya operasi hati di luar negeri. Tapi Dia berkehendak lain, Sabtu (10/4) lalu, Bilqis menghadap sang Pencipta.
Bagi kerdua orang tuanya tentu merupakan pukulan yang telak kehilangan seorang buah hati tercinta, Namun Tuhan selalu memebikan jalan yang terbaik untuk umatnya. Mungkin dengan cara inilah Dia membebaskan Bilqis dari segala penderitaannya.
Innalilahi wainnalillahi rojiun.
(Mungkin juga Dia memberikan jalan yang terbaik bagi Krisdayanti dengan mengakhiri hubungannya dengan Raul Lamos yang masih berstatus suami orang. Setidaknya, tidak dicap sebagai pengganggu rumah tangga orang)
Kriwikan Dadi Grojogan
Kamis, 24 Desember 2009
Posted by apurie in renungan
Kriwikan dadi grojogan, adalah sebuah peribahasa Jawa yang mengandung arti sebuah masalah sepele yang kemudian menjadi masalah besar. Dalam kehidupan sekarang ini peribahasa tersebut sepertinya sangat tepat ditujukan kepada kasus yang berhubungan dengan Prita. Bukan mengenai kasus hukum dengan Rumah Sakit Omni Internasional, melainkan berhubungan dengan gerakan solidaritas Koin Keadilan sehubungan dengan tuntutan Rp. 204 juta kepada Prita.
People power kembali berbicara, koin-koin yang terkumpul bukan hanya menyentuh angka tuntutan, tapi lebih besar hingga mencapai lebih dari Rp. 650 juta. Angka itu berasal dari koin-koin Rupiah yang mungkin dalam keseharian kita terlupakan, terabaikan dan mungkin terpinggirkan. Di antara koin-koin tersebut terdapat koin uang rupiah edisi lama, koin mata uang asing hingga koin permainan dari Timezone, Fun World, Cineplex21 dan lainnya. Apakah koin mesin permainan ini sebagai simbol bahwa hukum bisa dipermainkan?
Berapa keping uang yang terkumpul? Bila diasumsikan menggunakan pecahan Rp. 500, maka akan terkumpul 200.000 keping uang per Rp. 100 juta. Bagaimana bila koin dengan pecahan Rp. 100, Rp. 50, Rp. 25? Silakan hitung sendiri untuk jumlah yang melebihi angka setengah miliar itu. Kriwikan dadi grojogan, dari kepingan koin terkumpul uang denan jumlah yang fantastis.
(Saya jadi teringat dengan kasus Luna Maya vs Infotainment, seandainya Luna bisa meredam emosi, setidaknya menggunakan pilihan kata-kata yang lebih halus dalam Twitternya, tentu masalahnya tak seheboh ini menjadi grojogan)
Hanya Manusia Biasa
Kamis, 19 November 2009
Posted by apurie in renungan
Belum lama menghilang berita tentang kematian kiper tim nasional Jerman, RobertEnke (32) karena tertabrak kereta api yang kemudian memunculkan kesimpulan bahwa Enke melakukan bunuh diri. Enke adalah kiper nomor satu timnas Jerman menggantikan Jens Lehmann yang pensiun pasca Piala Eropa 2008 lalu. Enke telah membela Hannover sejak 2004 silam. Sebelum membela Hannover, dia pernah membela Tenerife, Fenerbache, Barcelona, Benfica, Borussia Moenchengladbach, dan Carl Zeiss Jena. Selain itu, Enke juga kiper berprestasi. Dia menjadi kiper terbaik Bundesliga 2009. Disinyalir karena kehidupan keluarganyalah yang mendorong Enka melakukan bunuh diri.
Beberapa hari yang lalu melalui berita TV saya menyimak kasus pencurian di rumah Ustadz kondang Ust. Yusuf Mansyur. Melalui berita tersebut dikabarkan saat kejadian beliau sedang berada di luar kota bersama keluarga mengalami kerugian hingga mencapai Rp. 1 Millir terdiri dari beberapa Blackberry, uang tunai dan emas batangan. Namun, sehari setelah peristiwa tersebut, Ustadz yang terkenal dengan ajaran sedekah itu mengkonfirmasi melalui situs dakwahnya di www.wisatahati.com. Dijelaskan bahwa harta yang dicuri terdiri dari uang tunai untuk gaji guru, gaji ustadz dan gaji tukang serta untuk material pembangunan pesantren.
Setelah menyimak berita tersebut saya berkesimpulan tentang kuasa Allah, tak ada yang sempurna, manusia punya kekurangan dan kelebihannya tanpa mengesampingkan kodrat manusia. Penjaga gawang Enke cukup berprestasi di tim, namun dia manusia biasa yang punya sisi rapuh. Ustadz Yusuf Mansyur yang sering mangajarkan amalan sedekah tak luput dari ujian dan cobaan-Nya meskipun beliau dekat dengan Allah. Saya hanya bisa berbaik sangka, setiap ujian pasti karena ada kenaikan tingkat. Enke, Ust, Yusuf Mansyur dan terlebih saya yang bukan siapa-siapa adalah manusia biasa.